Acara yang dibuka oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas, wakil ket ua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dihadiri dosen-dosen dari UMY dan Perguruan Tinggi lainnya ini mendapat perhatian besar, meskipun diselenggarakan pada saat hari wisuda. Dalam sambutannya, Prof. Yunahar menekankan pentingnya integrasi antara keilmuan dan akhlak. Karena itu, menurutnya, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilai-nilai luhur Islam atau yang dikenal sebagai "Islamisasi" . Menurutnya, wacana Islamisasi di UMY telah lama dikumandangkan, namun masih perlu ditingkatkan ke arah pengkajian yang serius dan mendalam yang dapat memberikan dasar-dasar teologis dan filosofis bagi wacana Islamisasi ilmu kontemporer.
Pada kesempatan itu, Prof. Wan Mohd Nor mempresentasikan makalah bertajuk Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose". Tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini, kata Prof. Wan - begitu dia biasa disapa - - adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang kini mendominasi peradaban dunia telah menjadikan ilmu sebagai hal yang problematis. Selain telah mengosongkan ilmu dari agama, konsep ilmu dalam peradaban Barat juga telah melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu,
menghilangkan nilai-nilai kesucian dari segala sesuatu yang wujud, mereduksi Intelek kepada rasio dan menjadikan rasio sebagai basis keilmuan. Barat juga telah menyalah-pahami konsep ilmu, mengaburkan maksud dan tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan
dugaan sebagai metodologi ilmiah. Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme. Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal. Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manus ia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-
akherat, agama-sains, tekstual-kontekstua l, akal-wahyu, objektif- subjektif, induktif-deduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality) . Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis- sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam
Islamisasi Ilmu adalah melakukan "Dewesternisasi" . Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan
dengan worldview Islam yang `tauhidik' dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad. Prof. Wan Mohd Nor telah banyak menjabarkan gagasan Islamisasi Ilmu ini dalam berbagai bukunya. Hingga kini, dia telah menulis lebih dari 13 buku dan monograf yang beberapa diantaranya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia Islam. Beberapa bukunya antara lain: The Concept of Knowledge in Islam: Its Implications for Education in a Developing Country (1989); A Commentary on the Culture of Knowledge
(Malay) (1990); The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas : An Exposition of the Original Concept of Islamization (1998), dan puluhan buku lainnya. Buku terakhirnya, The ICLIF Leadership Competency Model: An Islamic Alternative, ditulis bersama Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas (2007). Pada hari yang sama, usai seminar di UMY, Prof. Wan Mohd Nor mengisi acara Kuliah Umum & Di alog Ilmiah bertema "Dewesternisasi, Dekolonisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan" di Universitas Gajah
Mada Yogyakarta. Acara diselenggarakan oleh IPI Jogja, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Islamic Law Forum Fakultas Hukum UGM dan Jama'ah Shlahuddin UGM. Acara yang dihadiri ratusan dosen dan mahasiswa juga berlangsung sangat antusias. Disamping melalui buku- bukunya, pemikiran-pemikiran Prof. Wan juga sudah sering dimuat di
Majalah ISLAMIA yang diterbitkan Instutute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). Sebagaimana diketahui, disamping sempat berguru kepada Prof. Fazlur
Rahman di Chicago University, Prof. Wan Mohd Nor juga berguru serius kepada Prof. Naquib al-Attas. Meskipun kedua ilmuwan itu (Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Al-Attas) berteman cukup dekat dan memiliki sejumlah kesamaan dalam memandang dominasi Barat dalam dunia
keilmuan, tetapi mereka mempunyai perbedaan yang cukup besar dalam menawarkan solusi yang ditawarkan kepada kaum Muslim. Sebagai jawaban atas problematika dunia Islam saat ini, al-Attas dengan tegas mengajukan konsep "Islamisasi Ilmu". Dalam kasus penggunaan metode
hermeneutika dalam penafsiran al-Quran, misalnya, al-Attas menolak tegas. Sedangkan Fazlur Rahman justru yang memelopori penggunaan hermeneutika. Karena itu, dalam sejumlah kesempatan kunjungannya ke Indonesia, Prof. Wan Mohd. Nor sering menerima pertanyaan, "Mengapa sebagai murid Fazlur Rahman, pemikiran Anda berbeda dengan murid-
murid Fazlur Rahman lainnya?" Di antara murid Fazlur Rahman yang terkenal di Indonesia adalah Prof. Dr. Nurcholish Madjid dan Prof. Dr. Syafii Maarif. Sebagaimana Prof. Naquib al-Attas, dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, Prof. Wan memang tidak segan-segan memberikan kritik tajam terhadap penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Bahkan, menurutnya, penggunaan metode ini telah menyebabkan kaum Muslim kehilangan makna yang sebenarnya dari konsep-konsep dasar Islam dalam berbagai bidang keilmuan.
Usai acara di Yogya, Prof. Wan melanjutkan safari ilmiahnya ke Bandung. Di kota ini, pada 16 Desember 2008, dia memenuhi undangan diskusi terbatas dengan dosen-dosen Fakultas Sastra Universitas Pajajaran Bandung. Sore harinya, diselenggarakan diskusi terbatas di Masjid Salman-ITB. Bagi Prof. Wan Mohd Nor, kunjungan pertamanya ke Masjid Salman ITB memiliki nuansa tersendiri, karena dia bersahabat cukup akrab dengan Bang Imad (Dr. Imaduddin Abdurrahim, alm.) tokoh Salman-ITB yang dikenal memiliki semangat tinggi dalam perjuangan
Islam. Diskusi dihadiri oleh dosen-dosen ITB, Unikom, Unpad, dan juga mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung. Bagi para akademisi Muslim di ITB, ide Islamisasi Ilmu bukanlah hal yang baru. Tahun 1981, penerbit Pustaka-Salman ITB, telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme, karya Prof. Naquib al-Attas. Tah un 1984, juga diterbitkan buku Islamisasi Pengetahuan karya Prof. Ismail Raji al-Faruqi. Pada kesempatan ini, Prof. Wan juga sempat
mengklarifikasi gagasan Islamisasi Ilmu dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, sehingga gagasan yang sempat berkembang pada tahun 1980-an itu kemudian tenggelam. Ide Islamisasi, menurutnya, terburu-buru menjadi populer tanpa disertai penjelasan dan konsep yang mendasar. Padahal, konsep itu sebenarnya telah dipikirkan dan dijabarkan bahkan diaplikasikan dengan matang oleh Prof. Naquib al-Attas. Pada bab berjudul "Dewesternisasi Pengetahuan" dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981, dikutip kata-kata Prof. Naquib al- Attas tentang karakter keilmuan Barat: "Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengetahuan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah
menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengatahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat `ilmiah' dalam hal
metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran." (hal. 195-196).
Sifat dan karakter ilmu-ilmu sekuler Barat inilah yang juga dibahas oleh Prof. Wan saat berbicara dalam diskusi di FISIP Universitas Indonesia, pada 18 Desember 2008. Acara diskusi di UI ini dibuka oleh Prof. Dr. Maswadi Raud, ketua Program Studi Ilmu P olitik UI dan
dimoderatori oleh Prof. Dr. Ahmad Suhelmi. Hadir juga sebagai pembicara Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara dari UIN Jakarta dan Dr. Khalif Muamar dari ATMA-UKM. Menjawab pertanyaan seorang wartawan dalam diskusi tersebut, Prof. Wan menjelaskan, bahwa problem paling mendasar umat Islam adalah problem kekeliruan dalam keilmuan (confusion of knowledge), bukan problem kebodohan. Saat ini begitu banyak para cerdik pandai yang dimiliki umat Islam, tetapi memiliki ilmu yang keliru. Akibatnya, konsep adil dan adab sebagaimana dikehendaki oleh Islam tidak bisa diterapkan. Sebagai contoh, konsep demokrasi yang menempatkan semua
manusia pada derajat yang sama dalam pengambilan keputusan. Orang yang saleh disamakan dengan orang jahat; orang pandai disamakan derajatnya dengan dengan orang bodoh. "Jika untuk masuk UI ada seleksi, apakah tidak perlu dipikirkan, untuk memberikan suara pun nantinya perlu ada seleksi," kata Prof. Wan, sam bil mengimbau agar para pakar politik memikirkan masalah ini lebih lanjut. Pada kesempatan seminar di UI tersebut, Prof. Mulyadhi mempresentasikan aplikasi dari konsep Islamisasi Ilmu dalam bidang psikologi. Dia memulainya dari kritik terhadap Psikologi modern, yang menurutnya, justru telah menafikan "jiwa" manusia. Aneh, katanya,
Ilmu jiwa, justru tidak membahas "jiwa" itu sendiri. Guru besar UIN Jakarta ini memang tengah serius dengan proyek terjemahan berbagai kitab-kitab klasik dalam berbagai bidang keilmuan, karya para ilmuwan Muslim terdahulu. Dengan itu, dia berharap, kaum Muslim memahami apa
yang pernah dicapai oleh para ilmuwan Muslim terdahulu, yang sangat luar biasa.
Dr. Khalif Mu'ammar, pada kesempatan yang sama, memaparkan lebih lanjut implikasi dari hegemoni sekulariasasi pada bidang politik dalam makalahnya yang berjudul "Dewesternisasi Politik Kontemporer: Islam dan Konstitusionalisme" . Menurutnya, demokrasi tak da pat
dipisahkan dari sekularisme dan liberalisme karena memang eksistensinya tergantung pada kedua filsafat tersebut. Karenanya penilaian terhadap demokrasi tidak dapat dipisahkan pula dari
penilaian terhadap sekularisme dan liberalisme. Sejak kemunculan sekularisme, bidang yang pertama mendapat serangan ialah bidang politik. Karena tujuan sekularisme adalah agar supaya
agama dan gereja tidak campur tangan dalam urusan dunia yang murni diserahkan kepada penguasa politik. Pemikiran sekuler telah memisahkan antara wahyu dan akal, agama dan sains dan seterusnya. Sekularisme berasumsi bahwa kedua perkara tersebut dilihat saling bertentangan dan tak dapat dipadukan, keduanya dilihat secara dikotomik. Dengan dualisme ini sekularisme telah menempatkan manusia dan Tuhan sebagai entitas yang berlawanan dan terpisah. Inilah yang dimaksud dengan desakralisasi politik. Desakralisasi politik memutuskan kuasa dunia dari kuasa transenden. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa pemerintahan agama akan menghalangi perubahan dan kemajuan. Manusia mengatur kehidupannya tanpa melibatkan bimbingan Allah SWT.
Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlak, etika dan moral. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar Machiavelis "al-ghayahm tubarriru al wasilah" (tujuan menghalalkan segala cara). Politik bukan didasarkan pada nilai-nilai kebenaran agama dan akhlak yang mulia, tetapi dipandang sebagai faktor keduniaan semata-mata, sebagai cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan cara apa pun.
Dr. Khalif Muamar juga memaparkan prestasi kaum Muslim dalam membangun negara berdasarkan konstitusi. Ia membandingkan Piagam Madinah (622 M) dan Magna Carta (1215).
Sebagaimana acara di yogya, acara diskusi di FISIP UI juga mendapat perhatian yang luas. Puluhan peserta terpaksa berdiri dan banyak juga yang tidak d apat masuk ke ruang acara. Rangkaian kunjungan Prof. Wan Mohd Nor kali ini diakhiri dengan acara dialog dan silaturrahim
khusus dengan para peminat kajian pemikiran Islam di INSISTS Jakarta. Meskipun berbagai diskusi berlangsung dengan semarak, tetapi tentu saja, masih jauh dari mencukupi. Namun, setidak-tidaknya, safari ilmiah Prof. Dr. Wan Mohd Nor kali ini dapat memberi konribusi dalam
upaya membangun optimisme para cendekiawan Muslim di Indonesia dalam membangun peradaban Islam. Pada setiap sesi acara, sangat terasa upaya dan semangat Prof. Wan dalam menanamkan rasa percaya diri dan kebanggaan akan peradaban Islam. Dia berulang kali mengingatkan, bahwa mental 'minder' pada Barat dan silau kepada godaan-godaan duniawi -- baik harta, jabatan, maupun popularitas “ adalah penyakit yang harus dihindari oleh para
ilmuwan Muslim. Karena itu, kita berterimakasih atas kunjungan beliau dan berharap mudah-mudahan dapat menyerap ilmu ya ng bermanfaat, bagi diri kita dan bagi dakwah Islam di masa depan. (Jakarta, 19 Desember 2008).